KETIKA ALLAH TERLALU DEKAT

Ada suatu masa ketika manusia percaya bahwa jarak antara Allah dan dirinya begitu jauh, seperti langit yang tak mungkin disentuh dan bumi yang terlalu berat untuk mengangkat tubuh ke sana.
Lalu datang seorang lelaki dari Murcia, yang namanya kemudian dipuja, disumpahi, diperingati sebagai “al-Syaikh al-Akbar”, dan sekaligus dicurigai sebagai pengganggu garis tegas antara iman dan kekufuran.
Ibnu Arabi. Di tangannya, batas itu menjadi kabur.
Seolah ia tak lagi berjalan pada lantai masjid, melainkan pada tipisnya tebing metafisika: tebing yang di satu sisi terhubung dengan syariat, dan di sisi lainnya membuka jurang penafsiran tanpa ujung.
Dari sana lahir istilah yang kelak lebih ramai diperdebatkan ketimbang dipahami: wahdat al-wujud.
Kesatuan wujud.Tuhan dan alam. Yang satu dan yang selain satu, atau, kata sebagian orang, yang tidak selain itu.
Masalahnya mungkin sederhana: manusia selalu gelisah ketika Allah terlalu dekat.
Bahkan, ketika ia mendengar ungkapan “kemanapun kau menghadap, di situlah wajah-Ku”, ia merayap takut di antara tafsir-tafsir.
Ayat itu lebih aman jika menjadi puisi saja, bukan keyakinan.
Dalam keindahan kita memakluminya; dalam teologi kita tergagap.
Para pemuka seperti Ibn Taymiyah melihat bahaya di sana: jika Tuhan begitu dekat, apakah manusia tak akan tergoda menjadi bagian dari-Nya?
Apakah jarak yang menjaga adab tiba-tiba runtuh?
Apakah keimanan yang selama ini berjalan rapi dalam kerangka tanzih, penyucian Tuhan dari segala keserupaan, mendadak dikejutkan oleh suara yang berkata: lihatlah, kamu dan Dia tak betul-betul berbeda?
Bagi sebagian tradisi Islam, terutama yang menekankan rasionalitas dan tauhid dalam garis keras, Muhammadiyah, misalnya, di sinilah alarm berbunyi.
Islam, bagi mereka, menjaga Tuhan dari godaan untuk diperlakukan sebagai fenomena yang larut dalam kosmos. Tuhan adalah Tuhan.
Bukan gunung, bukan angin, bukan denyut dalam nadi mistis seorang sufi yang larut dalam ekstase.Kita pun memahami keberatan itu.
Sebab iman, bagi para pembaharu, bukan perkara melayang ke langit, tetapi menjejak bumi dengan terang: tauhid yang tegas, syariat yang tertib, akal yang bekerja jernih.
Sementara Ibnu Arabi bergerak di wilayah batas, kadang seperti ahli metafisika Yunani, kadang seperti Nabi yang mendengar bisikan malakut dalam istana hatinya.
Ia berbicara tentang Tuhan yang menampakkan diri melalui segala rupa. Tentang wujud yang satu, lalu memperbanyak diri dalam cermin-cermin alam.
Di titik ini, realitas berubah jadi rumah kaca. Kita melihat bayangan, bukan keberadaan. Tuhan menyingkapkan diri, tapi sekaligus menyembunyikan diri.
Dan manusia? Ia seperti anak kecil yang mencoba menyentuh pantulan wajahnya sendiri di permukaan air.
Dalam logika rasional, ada kekhawatiran. Bagaimana membedakan antara tajalli (penampakan sifat-Nya) dan hulul (menyatu) secara substansial?
Bagaimana membedakan antara Tuhan yang hadir dalam ciptaan, dengan ciptaan yang dianggap Tuhan?
Ibnu Arabi sudah menolak hulul dan ittihad dengan tegas. Ia mencela, bahkan, siapa pun yang mengaku menyatu dengan Tuhan sebagai orang yang sakit.
Tetapi sejarah tak selalu membaca teks. Ia membaca akibat.
Dan akibatnya adalah debat panjang yang tak kunjung selesai. Seakan dunia Islam terbagi menjadi dua: mereka yang mengeja realitas dengan logika, dan mereka yang melihatnya dengan mata batin.
Akan tetapi, barangkali kita lupa: agama tidak hanya lahir dari perintah dan larangan. Ia juga lahir dari rasa kagum.
Dari gemetar ketika melihat langit dini hari. Dari kesadaran bahwa sesuatu yang tak terhingga mengintip dari balik daun gugur.
Tasawuf, terutama tasawuf falsafi, lahir dari tanya yang tak cukup dijawab oleh hukum fikih. Ia bertanya, bukan tentang apa yang boleh dan tidak, tetapi tentang siapa yang Ada sebelum ada apa-apa.
Tentang suara yang mendahului bunyi.Bukankah setiap agama, pada akhirnya, menyimpan sisi puitis itu?
Bahkan yang paling tegas sekalipun.
Sebab, apa itu ihsan jika bukan pengalaman spiritual yang tak bisa dijelaskan dengan akal linear?
Apa itu cinta Tuhan jika bukan ketakmampuan bahasa menampung rasa? Ibnu Arabi hanya mengeksternalisasi apa yang pada banyak hati sebenarnya tinggal sebagai gema samar.
Tetapi mari kembali ke tanah. Di tempat lain dalam sejarah Islam, lahir pembaharuan yang melihat pengkultusan pada sufi sebagai problem.
Muhammadiyah, sejak awal, mencoba mengembalikan Islam kepada tanzih yang kuat: Tuhan suci dari penjelmaan, penyatuan, atau kesamaran.
Jalan ke Tuhan bukan ekstase kosmik, tapi amal dan ilmu, kerja sosial dan keteraturan nalar.
Wahdatul wujud, betapapun elegan secara metafisik, dikhawatirkan mengaburkan garis itu. Bila manusia terlalu sibuk menyibak tirai metafisika, akankah ia masih sibuk menyantuni fakir miskin?
Bila kosmos dianggap cermin Tuhan, apakah orang akan lupa bahwa amar ma’ruf nahi munkar tidak bisa difilosofikan sebagai drama batin?
Di sinilah dua dunia bersinggungan: dunia langit yang ingin larut, dan dunia bumi yang ingin menegakkan.
Siapa benar? Mungkin keduanya, dalam ruang masing-masing.
Yang satu menjaga api iman tetap menyala dalam pengalaman batin; yang lain menjaga agar api itu tidak membakar rumah rasionalitas dan ketertiban ibadah.
Dalam umat yang luas seperti samudra, keduanya tak harus saling menenggelamkan.
Ada momen dalam sejarah ketika kita terlalu sibuk mencari mana yang murni dan mana yang tercemar, hingga lupa bahwa iman sendiri adalah perjalanan.
Kadang ia terang; kadang kabur. Kadang ia membutuhkan penjelasan hukum; kadang ia membutuhkan puisi.
Bukankah Al-Qur’an sendiri turun sebagai ayat, dan sekaligus sebagai syair yang membuat padang pasir tiba-tiba punya gema baru?
Ibnu Arabi mungkin menari terlalu dekat pada api. Tetapi api itu juga menerangi sudut gelap tertentu dari pengalaman religius yang tak bisa dijelaskan oleh tafsir fikih.
Sementara Muhammadiyah, dengan ketegasan tauhidnya, membangun pagar agar umat tidak tersesat oleh simbol yang terlalu elastis.
Karena agama, bagi mereka, bukan hanya soal rasa, tetapi juga disiplin.Keduanya bagian dari sejarah pencarian yang sama.
Pada akhirnya, apa yang dipersoalkan dari wahdat al-wujud bukan sekadar konsep ontologis, melainkan ketakutan dan harapan manusia.
Takut bahwa Tuhan terlalu dekat, atau justru terlalu jauh. Harapan bahwa suatu hari, saat hening paling dalam, kita bisa mengintip ke dalam diri kita sendiri dan berkata: ada sesuatu di sini yang bukan sekadar daging dan tulang.
Sesuatu yang ingin kembali. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan kecuali dalam bahasa metafora para sufi.
Mungkin, sebagaimana Ibnu Arabi percaya, kita semua adalah cermin. Dan seperti semua cermin, kita memantulkan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, meski tidak pernah menjadi dirinya.
Mungkin, seperti diingatkan para pembaharu, cermin yang terlalu sibuk mengagumi pantulannya bisa lupa membersihkan debu di permukaan.
Di antara keduanya, agama berjalan. Kadang sebagai hukum. Kadang sebagai puisi. Kadang sebagai kerinduan untuk larut, kadang sebagai perintah untuk berhenti di batas.
Dan kita, manusia biasa, hanya belajar berjalan di antara dua panggilan itu: menjaga jarak, sambil tetap merindukan kedekatan.
Sebagaimana malam yang tahu ia bukan siang, tetapi tetap menunggu cahaya.
Gunoto Saparie adalah Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orwil Jawa Tengah
