Keberanian Pedagang Sukses Gegerkan Event “Gereget Pasar Bulu” Semarang

SEMARANG, JURNALJATENG.ID – Gelaran Event Gereget Pasar Bulu Semarang sukses mencuri perhatian publik sekaligus menghadirkan warna baru bagi pasar tradisional yang selama ini kerap dipandang sebelah mata.

Di balik kemeriahan acara tersebut, tersimpan kisah perjuangan dan keberanian para emak-emak pedagang Pasar Bulu yang berani menggagas sebuah ide besar—sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil dilakukan oleh kalangan pedagang pasar.

Dengan tekad kuat, para pedagang perempuan yang sehari-hari akrab dengan aktivitas memasak, berjualan, dan mengurus keluarga, justru tampil sebagai motor penggerak utama kegiatan ini.

Bagi mereka, Pasar Bulu bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan rumah kedua yang harus dijaga, dirawat, dan dikembangkan bersama.

Selama lebih dari dua bulan, para emak-emak pedagang ini rutin berkumpul hingga tiga kali dalam sepekan.

Waktu yang biasanya tersita untuk rutinitas harian kini dimanfaatkan untuk berdiskusi, menyusun konsep, serta memikirkan cara menghidupkan kembali Pasar Bulu di tengah minimnya perhatian dari pemerintah kota.

loading...

“Selama ini orang berpikir emak-emak pasar hanya nonton sinetron atau membicarakan hal-hal sepele. Tapi kami membuktikan, kami bisa melakukan sesuatu yang nyata,” ungkap salah satu panitia.

Berbagai rintangan dan ganjalan sempat menghadang, namun satu per satu berhasil diatasi.

Hasilnya, selama dua hari pelaksanaan pada Sabtu dan Minggu, Pasar Bulu benar-benar “geger”.

Baca Juga  Webinar Implementasi Smart City Empat Bupati Menjadi Narasumber

Beragam kegiatan disuguhkan bagi pengunjung dan pedagang, menghadirkan suasana pasar yang hidup, aman, dan kondusif.

Para pedagang pun menilai, justru merekalah yang selama ini memiliki alasan untuk kecewa terhadap Dinas Perdagangan Kota Semarang maupun Pemerintah Kota Semarang.

“Apa yang sudah kalian perbuat untuk pedagang pasar?” ujar salah satu pedagang dengan nada kecewa, menyoroti minimnya respons, dukungan, hingga kehadiran pemerintah kota dalam event tersebut.

Di sisi lain, dukungan justru datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Selain itu, Mbak Tia Hendi turut memberikan dukungan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang difasilitasi oleh Mbak Windi selaku pendamping Rumah Pintar Efata.

Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang juga sempat hadir meski acara telah usai dan bertemu dengan Ketua Pegiat Seni dan Budaya Semarang, Yos Aringga.

Kehadiran Leo Aji turut memberi suntikan semangat bagi para pedagang dan panitia Event Gereget Pasar Tradisional Semarang.

Dalam perbincangan santai, Joko—sapaan akrab salah satu pejabat—sempat menyampaikan harapannya agar ke depan kegiatan serupa bisa digelar di kantornya.

Pernyataan itu disambut tawa para pedagang.

“Biasanya ujung-ujungnya jawabannya sama, anggaran sudah habis,” celetuk salah satu pedagang, menyinggung janji-janji yang kerap tak terealisasi.

Baca Juga  Reach Out Mission Gelar Pastors Seminar “The Harvest” di Kebumen: Bangkitkan Semangat Penuaian Jiwa

Sementara itu, Kepala Bidang Penataan Dinas Perdagangan Kota Semarang, Edi Subeno, menyatakan bahwa pihaknya berencana membuat kegiatan keramaian di enam pasar Kota Semarang pada tahun depan.

“Pedagang akan menunggu, seperti apa gebrakan itu nanti,” ujar salah satu pedagang menanggapi pernyataan tersebut.

Isu “ngopeni pasar” kini menjadi perbincangan hangat di kalangan pedagang pasar Kota Semarang. Seniman dan budayawan Kota Semarang, Gunung Mahesa, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah konsep lanjutan untuk Pasar Bulu.

“Kami ini seperti maestro di tengah lapangan sepak bola, memainkan bola dengan konsep dan ide. Tapi bolanya tak pernah masuk gawang,” ujarnya, menggambarkan perjuangan yang kerap tak diiringi dukungan nyata.

Gunung menekankan bahwa pasar tradisional harus dijaga dan dilestarikan. Budaya tawar-menawar merupakan warisan leluhur yang tidak boleh hilang.

“Kalau hanya menarik kios, menarik retribusi, lalu diam di kantor, merokok tanpa berpikir bagaimana cara meramaikan pasar, saya juga bisa,” sindirnya tegas.

Ia mengaku tertegun melihat semangat para pedagang yang rutin berkumpul, memikirkan ide dan konsep.

“Lalu kami bertanya, ada apa dengan Pemkot Semarang? Kenapa diam? Kenapa tidak datang? Apakah pasar dianggap bau, jijik, atau tidak penting?” katanya.

Baca Juga  Pawai Karnaval Seni Budaya Kendal Ditiadakan,Digelar Tingkat Kecamatan

Gunung menegaskan, pernyataannya bukan semata kritik, melainkan ajakan untuk berdiskusi secara terbuka.

“Pasar itu aset dan penyumbang PAD besar. Jangan anggap pedagang bodoh. Mereka paham betul janji-janji yang tak pernah terealisasi,” tegasnya.

Event Gereget Pasar Bulu menjadi bukti bahwa dengan keberanian, disiplin, kecerdasan, serta olahan ide kreatif, pedagang pasar mampu menghadirkan perubahan nyata.

Sebuah pesan kuat bahwa pasar tradisional bukan untuk ditinggalkan, melainkan untuk dirawat dan diperjuangkan bersama.