MEMBACA LAGI KISAH CALIGULA

Ada suatu malam dalam sejarah yang tak pernah benar-benar gelap: malam ketika Caligula, “sepatu kecil” itu, menggandeng Livia Orestilla pulang dari pesta perkawinan orang lain.

Malam itu bukan hanya sebuah skandal istana. Ia adalah alegori, tentang bagaimana kekuasaan, ketika merasa sah tanpa batas, berubah menjadi tangan yang merampas, bukan sekadar menggenggam.

Caligula tidak menculik Livia dengan kata-kata. Ia melakukannya dengan pedang. Dengan kilatan besi, protes keluarga mempelai dibungkam.

Kekuasaan, rupanya, tidak butuh persuasi bila ia sudah menjelma menjadi ketakutan. Pada titik itu, hak tidak lagi berbunyi sebagai argumen; ia mati sebagai suara.

Dalam perjamuan, kecemburuan seorang kaisar menjadi hukum; dalam perjalanan pulang, hukum menjadi sepasang lengan yang menyeret.

Nama “Caligula”—sepatu kecil—mula-mula terdengar jenaka. Seorang bocah yang bermain perang, bangga mengenakan busana prajurit. Ia lahir di antara barak dan kamp, di bawah bayang-bayang ayahnya, Germanicus, jenderal masyhur.

loading...

Namun sejarah sering bermain ironis: sepatu kecil tumbuh menjadi sepatu yang menginjak.

Dari simbol kepolosan menjadi alat penindasan.Kita tahu kisahnya: tubuh perkasa, pendidikan baik, keberanian terlatih. Semua itu biasanya dirayakan sebagai prasyarat kepemimpinan.

Tetapi pada Caligula, keberanian yang terlatih bertemu kesadaran akan kemutlakan kuasa. Dari pertemuan itulah lahir kesombongan yang tak lagi membutuhkan norma.

Nasihat neneknya, Antonia, dipatahkan dengan senyum sinis. Humor berubah menjadi ancaman. “Aku bisa memancungmu sekarang.”

Bahkan cinta pun dijadikan panggung intimidasi: kepala yang dicumbu dapat digelindingkan kapan saja.

Ada sesuatu yang mengerikan dalam cara kekuasaan bermain-main. Ia bukan hanya memerintah; ia mengolok.

Baca Juga  Pemkab Kendal Gelar Rapat Koordinasi Lintas Sektoral,Ini Kata Bupati Kendal

Ia memanggil Senat, lalu menari di depan mereka—dan memaksa ciuman pada kaki seorang kusir.

Ini bukan sekadar penghinaan. Ini adalah deklarasi: bahwa martabat dapat ditekuk, bahwa kehormatan adalah properti kaisar.

Arena gladiator dijadikan panggung lelucon yang berdarah: pahlawan tanpa tangan melawan lawan dengan pispot emas. Kekejaman, ketika dibungkus tawa, menjadi lebih kejam.

Di ranah privat, takhta membenarkan segalanya. Nafsu menjadi saluran kuasa.

Hubungan terlarang dengan saudari sendiri, pernikahan yang dirampas, talak yang dipaksakan, larangan berhubungan dengan lelaki lain; semua adalah catatan tentang tubuh yang dijadikan wilayah kekaisaran.

Perempuan bukan subjek; mereka adalah provinsi. Bahkan kuda—Incitatus—mendapat kandang marmer, palungan gading, piala emas, undangan kenegaraan, hingga jabatan konsul.

Ketika hewan diberi kehormatan negara, kita paham betapa rendahnya nilai manusia di mata kekuasaan yang mabuk.

Ironi terbesar mungkin terletak pada awal pemerintahannya.

Tahun 37, Caligula tampak sebagai harapan. Fasih bicara, cerdas, murah hati.

Harta warisan dibagi, orang buangan dipulangkan, balapan kereta ditambah, janji kerja sama dengan Senat diumumkan.

Rakyat bersyukur; korban dipersembahkan kepada dewa-dewa. Kekuasaan yang lahir dari simpati kerap merasa dicintai—dan karena itu merasa kebal.

Lalu apa yang terjadi? Kekuasaan yang dijunjung berubah menjadi jurang. Badan Caligula sakit, disiksa ayan; pikiran terganggu.

Ia menikmati wajahnya yang menakutkan di cermin. Malam-malam ia berteriak memanggil fajar; ketika badai datang, ia bersembunyi di kolong ranjang.

Ketakutan personal dijawab dengan kemewahan publik. Kesepian diobati dengan pesta 10 juta sestertius.

Baca Juga  Semangat Gotong Royong, Bupati Kendal Bersatu Siaga Turun Gunung Peduli Sampah Di Desa Dan Kelurahan

Jembatan raksasa dibangun di Teluk Baiae; Roma kekurangan kapal gandum; rakyat lapar. Emas ditaburkan dari atap basilika; orang berebut hingga mati.

Tawa kaisar adalah gema dari penderitaan.Kas negara kosong. Maka pajak diciptakan dari apa saja—termasuk bordil dan bekas pelacur yang menikah.

Gladiator dilarang saling membunuh demi penghematan; mereka dijual kepada bangsawan. Bahkan anggukan orang ngantuk dihitung sebagai tawaran lelang.

Kekuasaan, ketika kehabisan sumber daya, menemukan kreativitasnya pada pemerasan.

Di titik ini, hukum berubah menjadi jebakan. Kesalahan dicari; tuduhan pengkhianatan dilontarkan; harta disita; nyawa melayang. Pemberontakan gagal hanya menambah kekejaman.

Penyiksaan dirancang agar korban “sadar” akan kematiannya. Agrippina dibuang; Antonia dipaksa bunuh diri. Perintah keji muncul: lemparkan semua yang gundul ke binatang buas.

Kritik dibalas dengan duduk di terik matahari hingga mati. Sejarah mencatat—melalui Dio Cassius, Tacitus, Suetonius—barangkali dengan kebencian.

Namun fakta kekejaman tak memerlukan retorika.Para filsuf dimusuhi. Seneca hampir mati; ia diselamatkan oleh sakit, lalu dibuang delapan tahun.

Di sini, pikiran adalah ancaman. Kekuasaan yang absolut takut pada argumen. Ia lebih suka kilat palsu dan guntur buatan.

Caligula memproklamasikan diri sebagai dewa. Untuk menandingi Jupiter, ia menciptakan alat suara dan api.

Kepala patung dewa dipancung, diganti kepalanya sendiri. Ia duduk di kuil Castor dan Pollux, disembah rakyat.

Kuil dibangun untuk dirinya; kuda menjadi imam. Jupiter diancam diusir ke Kreta. Dewi Bulan dipeluk dalam kata-kata.

Seorang bangsawan menjawab bijak: hanya para dewalah yang bisa melihat dewi itu. Kebijaksanaan kadang menyelamatkan kepala.

Baca Juga  Polda Jateng Ungkap Kasus Penadahan Motor Transnasional,Ini Kata Irjen Pol Ahmad Luthfi

Lalu tubuh yang rapuh pun mengejar takdirnya. Umur 29, ia tampak tua. Negara kacau; pemberontakan merebak.

Di sebuah gang rahasia dekat Circus Maximus, belati menancap. Cesonia dan putrinya mati bersama.

Rakyat mula-mula tak percaya—barangkali tipu daya. Namun darah di belati Cassius Chaerea bicara. Kelegaan menyusul. Senat berkumpul.

Pertanyaan lama kembali: siapa lagi yang akan mendewai mereka?Kisah Caligula bukan sekadar biografi tiran. Ia adalah peringatan tentang kekuasaan yang kehilangan cermin.

Ketika hukum menjadi perpanjangan iri, ketika humor menjadi ancaman, ketika kemewahan menutup ketakutan, ketika dewa dibuat untuk menutup rapuhnya manusia—maka sepatu kecil itu akan selalu tumbuh, menginjak, dan akhirnya jatuh.

Sejarah tidak pernah benar-benar selesai; ia hanya menunggu kita lupa.

Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Satupena Jawa Tengah.