Moment of Unity Banyumas Rayakan Hari Kasih Sayang Bersama 30 Pasang Pendeta di Hotel Meotel Purwokerto

30 pasang pendeta saat acara moment of unity di Purwokerto . Foto : Tetty

BANYUMAS, JURNALJATENG.id – Moment of Unity (MoU) bersama Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Eks Keresidenan Banyumas menggelar ibadah spesial perayaan Hari Kasih Sayang bersama pasangan di Hotel Meotel Purwokerto, Senin (7/2).

Kegiatan ini diikuti 30 pasang alumni dan pendeta dari Purwokerto dan sekitarnya sebagai upaya memperkuat keharmonisan rumah tangga dan nilai-nilai keluarga Kristen.

Moment of Unity merupakan gerakan pemulihan bagi pasangan suami istri yang telah melahirkan banyak alumni di wilayah Eks Keresidenan Banyumas, khususnya dari kalangan pendeta.

Dalam kegiatan ini, peserta diajak mengingat kembali 10 prinsip yang diajarkan dalam retreat MoU sekaligus menyegarkan kembali memori cinta bersama pasangan.

Selain ibadah bersama, acara juga diisi dengan berbagai permainan yang bertujuan memperkuat nilai-nilai keluarga Kristen, seperti saling percaya, kebersamaan dalam suka dan duka, serta kesehatian dalam menghadapi berbagai problematika rumah tangga.

loading...

Dalam kesempatan tersebut, pasangan Hendy dan Yuli membagikan kesaksian hidup mereka setelah mengikuti retreat MoU. Hendy mengaku dirinya membangun keluarga dengan dasar yang keliru.

“Saya membangun keluarga dengan dasar yang salah, yakni menikah karena ada yang mau. Hal ini membuat saya tidak terlalu menghargai pernikahan kami dan rawan untuk memiliki pasangan lain.

Baca Juga  TANTANGAN PEMBANGUNAN SISTEM ANGKUTAN UMUM MASSAL PERKOTAAN

Hubungan pernikahan kami lebih kepada saling ada maunya, bukan karena saling sehati sepikir. Bersyukur dalam retreat MoU itu semua diluruskan kembali, sehingga pernikahan kami yang tadinya sudah oleng dapat terselamatkan,” tuturnya.

Kesaksian serupa juga disampaikan pasangan Aan dan Mery. Mereka menceritakan kondisi rumah tangga yang sempat berada di ujung tanduk karena sang suami meninggalkan istri dan tidak menjalankan perannya sebagai kepala keluarga.

Mery mengungkapkan bahwa dirinya terus berjuang mempertahankan rumah tangga dengan doa, meski sempat merasa putus asa.

“Saya bertahun-tahun mendoakan suami. Semakin saya doakan, kelihatannya semakin buruk keadaannya.

Sampai saya mau menyerah dan berkata kepada Tuhan, saya kembalikan suami titipan-Mu karena sudah busuk.

Tetapi Tuhan menguatkan saya bahwa dalam tangan saya, buah busuk ini akan kembali menjadi baik. Akhirnya suami saya kembali dan dipulihkan, bahkan sekarang melayani Tuhan,” ujarnya.

Sementara itu, dalam sesi sharing, Bambang dan Koemala dari Semarang mengingatkan pentingnya terus menerapkan 10 prinsip MoU dalam kehidupan keluarga.

Baca Juga  Zona Hijau Dua Daerah Wilayah Jawa Tengah, Dimungkinkan Buka Sekolah dengan Syarat Ketat

Mereka juga berbagi pengalaman bahwa konflik kecil dalam rumah tangga kerap terjadi akibat ego masing-masing.

“Urusan selimut dan handuk saja bisa jadi bahan pertengkaran yang tidak habis-habisnya. Sampai kami disadarkan Tuhan pentingnya untuk tidak egois dan tidak menang sendiri dalam menjalani bahtera rumah tangga,” ungkapnya.

Mereka menegaskan bahwa pasangan merupakan bagian penting dalam kehidupan, sehingga hubungan suami istri harus dijaga dengan saling menghormati dan saling melengkapi.

“Pasangan adalah separuh dari diri kita. Jadi tidak mungkin kita bisa maksimal dan luar biasa kalau tidak dilengkapi oleh pasangan. Jangan mau diadu domba oleh iblis.

Bukan pula menjadi suami takut istri, melainkan suami yang menghormati istri. Suami istri harus saling mengisi kekurangan satu sama lain. Praktekkan kasih kepada pasanganmu,” pungkasnya.

Pdt Joy Tarigan, ST selaku Koordinator Wilayah API Banyumas Raya berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana bagi para pendeta untuk menikmati kebersamaan bersama pasangan di tengah kesibukan pelayanan gereja yang menguras waktu, tenaga, dan pikiran.

Dengan demikian, keharmonisan rumah tangga para hamba Tuhan dapat terus terjaga dan dipertahankan.

Baca Juga  Sapawi Resmi Nahkodai PWI Kendal 2025–2028, Tegaskan Komitmen Jaga Marwah Jurnalisme

Sementara itu, Tetty selaku koordinator acara menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung kegiatan tersebut, mulai dari tim alumni MoU Eks Keresidenan Banyumas, API Banyumas Raya, Meotel by Dafam Purwokerto, Toko Roti Roem, Bolu Kukus Shinta, hingga Mie Ayam Pontianak.

Ia berharap gerakan pemulihan pasangan suami istri di wilayah Banyumas Raya semakin meluas, sehingga visi MoU “Membangun keluarga, melahirkan generasi mulia” dapat tercapai.

(Tet/zyk)