DPRD kota Semarang Soroti Sampah di Rowosari Semarang, Dorong TPS 3R untuk Cegah Banjir

Anggota DPRD kota Semarang Dini Inayati saat acara FGD
SEMARANG, JURNALJATENG.id – Persoalan sampah di Rowosari Semarang kembali menjadi sorotan.
Di tengah gencarnya Pemerintah Kota Semarang melakukan aksi bersih sungai, perilaku buang sampah sembarangan masih ditemukan dan berdampak langsung pada sistem pengendalian banjir.
Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Dini Inayati, menegaskan bahwa persoalan sampah bukan hanya soal kebersihan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan warga dari ancaman banjir Semarang.
Hal itu ia sampaikan usai bertemu warga RW 02 dan RW 06 Kelurahan Rowosari, Sabtu (28/2/2026).Sampah Sumbat Pompa Banjir di Rowosari
Menurut Dini, laporan dari petugas pompa air di wilayah Rowosari menunjukkan masih adanya sampah yang menyumbat saluran serta pompa pengendali banjir.
Kondisi ini membuat pompa tidak dapat bekerja optimal.
“Kalau pompa tersumbat karena sampah, maka fungsinya tidak maksimal. Bahkan berisiko rusak. Akibatnya, potensi banjir di Rowosari Semarang akan semakin besar saat curah hujan tinggi,” ujarnya.
Masalah pompa banjir tersumbat sampah ini dinilai menjadi salah satu penyebab banjir di Rowosari Semarang yang harus segera diantisipasi.
Terlebih, wilayah tersebut termasuk daerah yang rawan genangan ketika hujan deras turun dalam durasi panjang.
Dini menegaskan bahwa membuang sampah sembarangan, baik ke sungai maupun saluran air, merupakan tindakan yang merugikan masyarakat luas.
“Membuang sampah sembarangan bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga bentuk ketidakpedulian terhadap lingkungan dan sesama. Dampaknya kembali ke kita semua,” tegasnya.
Ia menilai, pengelolaan sampah rumah tangga di Semarang masih perlu diperkuat melalui edukasi dan pembiasaan.
Kesadaran kolektif masyarakat menjadi kunci utama agar persoalan sampah tidak terus berulang.
Menurutnya, penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.
Peran warga sangat menentukan, terutama dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah.
“Kalau kita disiplin memilah dan tidak membuang sampah ke sungai, maka beban saluran air dan pompa banjir akan jauh berkurang,” jelasnya.
Sebagai anggota DPRD Kota Semarang Komisi C yang membidangi infrastruktur dan lingkungan, Dini menegaskan komitmennya untuk terus mendorong solusi jangka panjang dalam penanganan sampah dan banjir Semarang.
Salah satu solusi yang didorong adalah pembangunan TPS 3R Rowosari. Konsep Reduce, Reuse, Recycle dinilai mampu menjadi solusi pengelolaan sampah terpadu di tingkat kelurahan.
Menurut Dini, TPS 3R bukan sekadar tempat penampungan, melainkan pusat pengolahan yang memungkinkan sampah dipilah, didaur ulang, dan dimanfaatkan kembali.
“Dengan TPS 3R, sampah yang masuk bisa dipilah dan diolah. Bahkan jika dikelola profesional, bisa menjadi sumber pemasukan bagi warga,” katanya.
Keberadaan TPS 3R Rowosari diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di sungai atau tempat pembuangan akhir.
Selain itu, sistem ini juga dapat membuka peluang ekonomi berbasis lingkungan.
Dini pun mengajak warga untuk mendukung penuh rencana pembangunan TPS 3R tersebut.
“Ini bukan hanya proyek fisik, tetapi perubahan pola pikir. Kalau dikelola bersama, manfaatnya akan kembali ke masyarakat,” tambahnya.
Sebagaimana diketahui, bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari 2026, Pemerintah Kota Semarang menggelar aksi bersih-bersih Sungai Tawang Mas di wilayah Semarang Barat.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pembersihan lima sungai di Kota Semarang. Selain endapan lumpur yang tebal, tumpukan sampah yang mengapung masih menjadi persoalan utama.
Wali Kota Semarang, Agustina, menyampaikan bahwa kegiatan bersih sungai akan terus digencarkan dengan skala lebih besar sebagai bagian dari upaya penanganan banjir Semarang.
Ia juga mengapresiasi partisipasi masyarakat yang dinilai semakin meningkat dalam setiap kegiatan bersih sungai.
“Antusiasme masyarakat luar biasa. Saat kegiatan di Kali Jaten dan Kali Semarang, partisipasinya semakin besar. Artinya, jika waktunya tepat dan diajak bersama, warga sangat siap bergerak,” ujarnya.
Persoalan sampah di Rowosari Semarang menjadi gambaran bahwa penanganan banjir tidak cukup hanya dengan pembangunan infrastruktur. Perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan sistem pengendalian banjir.
Jika sampah terus menyumbat saluran dan pompa, maka investasi besar dalam infrastruktur pengendali banjir bisa menjadi kurang efektif.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, DPRD Kota Semarang, dan masyarakat menjadi kunci utama.
Edukasi berkelanjutan, penguatan pengelolaan sampah rumah tangga, serta dukungan terhadap TPS 3R Rowosari diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang.
Dengan kesadaran bersama, persoalan sampah tidak lagi menjadi sumber masalah, tetapi dapat diubah menjadi peluang ekonomi sekaligus langkah nyata mencegah banjir di Semarang.
