Smansa Rayakan Kartini dengan Sentuhan Jawa yang Kental dan Inspiratif, Nyanyikan Lagu Indonesia Raya Sambil Diiringi Tabuhan Gamelan

SEMARANG, JURNAL JATENG.id— Perayaan Hari Kartini di SMA Negeri 1 Semarang berlangsung berbeda, Selasa (21/4). Lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan iringan gamelan dan gong oleh para siswi, menghadirkan nuansa kental budaya Jawa sekaligus menegaskan semangat emansipasi perempuan.

Sejak pagi, ratusan siswa memadati halaman sekolah dengan balutan kebaya dan pakaian adat Nusantara.

Denting karawitan mengalun, menciptakan suasana sakral namun tetap meriah dalam peringatan tokoh emansipasi perempuan, Raden Ajeng Kartini.Ratusan siswa lain tak kalah semarak.

Mereka mengenakan kebaya dan beragam busana adat Nusantara, menciptakan harmoni visual yang kental dengan nuansa tradisi.

Perayaan Hari Kartini tahun ini di Smansa bukan sekadar seremoni, melainkan panggung ekspresi budaya dan semangat emansipasi.

Di balik kemeriahan itu, siswa kelas XI sekaligus ketua panitia, Ni Putu Kirana Shinta Devi, menjelaskan bahwa acara utama bertajuk “Kang Mas Mbakyu” menjadi sorotan.

loading...

Konsepnya menyerupai ajang duta pelajar, terinspirasi dari Denok Kenang khas Jawa Tengah, namun dikemas dalam versi sekolah.

Baca Juga  Forkopimda Monitoring Kesiapan Logistik Pilkada Kendal

“Selain Kang Mas Mbakyu, ada juga lomba voice, cerdas cermat (heroes), akting, menyanyi, hingga menghias makanan. Kami juga menyediakan foto booth, bazar, dan hadiah bagi peserta yang aktif,” ujarnya.

Puncak acara menghadirkan sesi catwalk layaknya ajang *pageant*, lengkap dengan penilaian studi kasus oleh dewan juri.

Di akhir acara, diumumkan pemenang Kang Mas dan Mbakyu Smansa yang menjadi ikon perayaan tahun ini.

Yang membuat perayaan semakin khas adalah kolaborasi dengan ekstrakurikuler karawitan. Iringan gamelan tak hanya hadir saat upacara, tetapi juga menghidupkan suasana sepanjang rangkaian acara.

“Karena Kartini identik dengan budaya Jawa, karawitan memberi nuansa yang kuat. Bahkan saat catwalk nanti juga diiringi gending Jawa,” tambah Kirana.

Bagi para siswa, perayaan ini bukan sekadar kegiatan tahunan. Kirana memaknai sosok Raden Ajeng Kartini sebagai inspirasi yang masih relevan hingga kini.

“Beliau memperjuangkan kesetaraan perempuan. Meski sekarang sudah lebih maju, masih ada tantangan seperti diskriminasi dan budaya patriarki.

Baca Juga  Polemik Opsen PKB di Jateng, DPRD Semarang Minta Pemerintah Kaji Ulang Penetapan NJKB

Karena itu, peringatan seperti ini penting agar semangat Kartini tetap hidup,” katanya.

Ia juga mengaku memiliki sosok inspirasi masa kini, yakni Rania Yamin, yang dinilainya mewakili perempuan modern yang berdaya dan menginspirasi.

Kepala sekolah Smansa, Taufiq Saleh, menegaskan bahwa perayaan ini menjadi bagian dari upaya sekolah menanamkan nilai budaya sekaligus menghargai perjuangan Kartini.

“Kami sengaja menampilkan karawitan yang dimainkan siswa, khususnya perempuan. Ini bagian dari nguri-uri budaya sekaligus menumbuhkan semangat emansipasi,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini telah menjadi tradisi tahunan dan terus berkembang. Bahkan tahun ini dinilai menjadi salah satu perayaan terbesar, berkat keterlibatan aktif siswa sejak tahap perencanaan.

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, Budi Handoyo, menambahkan bahwa gamelan bukan sekadar musik pengiring, melainkan simbol identitas budaya.

“Kartini adalah perempuan Jawa. Maka penting bagi siswa untuk memahami bahwa identitas budaya seperti gamelan adalah bagian dari jati diri,” jelasnya.

Baca Juga  Moderasi Beragama Upaya Menjaga Keseimbangan

Ia juga menilai antusiasme siswa sangat tinggi. Keterlibatan OSIS dalam penyelenggaraan menjadi bukti bahwa generasi muda mampu mengemas nilai sejarah menjadi kegiatan yang relevan dan menyenangkan.