Antre Panjang Berujung Kecewa, Pertalite di SPBU 44-513-25 Caruban Gemuh Mendadak “Hilang”, Wartawan Duga Mesin Sengaja Dimatikan

JURNALJATENG.ID, KENDAL – Kekecewaan mendalam dialami seorang pelanggan berinisial SY yang juga berprofesi sebagai wartawan saat hendak mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di SPBU 44-513-25 Caruban, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal, pada Selasa (18/8/2026) sekira pukul 20.35 WIB.
Setelah harus mengantre cukup panjang, tepat saat gilirannya berada di depan nozzle, petugas SPBU secara tiba-tiba menyatakan stok Pertalite habis.
“Sudah mengantri panjang, pas posisi saya di depan saya, pihak pegawai mengatakan Pertalite habis, saya minta cek mesin di dalam tidak direspon,” ujar SY kepada jurnaljateng.id.
Ia menuturkan, situasi di SPBU saat itu cukup ramai. Pegawai terlihat panik karena banyaknya kendaraan yang mengantre. Kejanggalan pun muncul saat ia meminta solusi.
Menurut SY, pegawai di sisi lain justru mengatakan masih bisa diisi Pertalite. Hal tersebut menimbulkan tanda tanya besar.
“Sebagai solusi kata pegawai yang sebelah bisa di isi pakai Pertalite, artinya Pertalite masih ada dan tidak habis. Diduga ada permainan sistem dimatikan mesin,” tegasnya.
Dugaan adanya kejanggalan dalam pelayanan semakin menguat karena tidak adanya transparansi dari pihak SPBU. Saat SY meminta untuk bertemu mandor SPBU untuk klarifikasi, pegawai berdalih mandor sudah pulang.
Adapun SPBU Caruban tersebut diduga milik seseorang bernama Cahyo, berdasarkan keterangan pegawai SPBU di lapangan.Kejanggalan berlanjut. Beberapa menit kemudian, saat SY kembali ke lokasi untuk mengambil dokumentasi foto, kondisi SPBU sudah sepi.
“Beberapa menit kemudian saya kembali lagi untuk mengambil dokumen foto, pengantre sudah tidak ada lagi dan Pertalite tetap tidak ada,” ungkapnya. Ia sangat menyayangkan pelayanan tersebut sebagai pelanggan sekaligus wartawan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen SPBU 44-513-25 Caruban Gemuh belum dapat dikonfirmasi. Pelanggan berharap pihak Pertamina Patra Niaga dan manajemen SPBU memberikan penjelasan terbuka agar kejadian serupa tidak terulang dan merugikan konsumen lain.
(JJID/SFK)
