Karnaval Inklusi SLB Negeri Semarang, Siswa Tampilkan Sosok Idola dan Profesi Impian

SEMARANG, JURNAL JATENG.id – Keceriaan mewarnai peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di SLB Negeri Semarang.

Ratusan siswa berkebutuhan khusus mengikuti karnaval inklusi dengan mengenakan kostum sesuai sosok atau profesi yang menjadi idola mereka, Kamis (20/8/2026).

Karnaval yang digelar di kampus SLB Negeri Semarang, Jalan Elang Raya, Kota Semarang, tersebut mengusung tema “Idolaku”.

Para siswa tampil dengan beragam kostum, mulai dari guru, pemain sepak bola hingga berbagai profesi lainnya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat SLB Negeri Semarang, Aris Wibowo, mengatakan tema “Idolaku” dipilih untuk membangun pola pikir siswa agar memiliki cita-cita dan gambaran mengenai masa depan.

“Mereka biar punya cita-cita seperti apa yang mereka harapkan. Harapannya nanti mereka akan bertumbuh sesuai dengan kapasitas cita-citanya,” ujar Aris di sela kegiatan.

Menurut Aris, karnaval inklusi tidak hanya menjadi ruang bagi siswa berkebutuhan khusus untuk merayakan kemerdekaan, tetapi juga menjadi sarana mempertemukan dunia pendidikan dengan dunia usaha.

Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 1.200 siswa dan orang tua, serta sekitar 20 pengusaha dan mitra industri.

Kolaborasi itu diharapkan dapat mendorong terciptanya lingkungan kerja yang semakin ramah terhadap penyandang disabilitas.Kostum yang dikenakan para siswa dipersiapkan bersama orang tua selama hampir satu bulan.

Peserta berasal dari berbagai kelompok kebutuhan khusus, mulai dari siswa dengan hambatan penglihatan atau tunanetra, hambatan pendengaran atau tunarungu, hambatan intelektual atau tunagrahita, hambatan gerak hingga autisme.

Baca Juga  Sinergi 500 Personel Lintas Instansi, Kendal Perkuat Pengamanan Ramadan dan Idulfitri

Rute karnaval dimulai dari SLB Negeri Semarang.

Para peserta kemudian berjalan menyusuri jalan raya menuju kawasan Artomoro sebelum kembali ke sekolah. Jarak yang ditempuh sekitar satu kilometer dengan pendampingan orang tua.

Rektor Universitas Stekom Semarang, Dr Joseph Teguh Santoso M.Kom, mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara SLB Negeri Semarang, Universitas Stekom, dunia usaha dan masyarakat.

“Agenda hari ini adalah karnaval kolaborasi bersama SLB Negeri Semarang.

Ada sekitar 600 siswa dan 250 guru, kemudian bersama perusahaan dan pengusaha yang peduli inklusi sekitar 20-an, serta kurang lebih 150 mahasiswa-mahasiswi Universitas Stekom,” ujar Joseph.

Setelah karnaval, peserta mengikuti berbagai permainan khas peringatan HUT Kemerdekaan.

Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa, pengusaha dan mitra industri untuk berinteraksi langsung dengan siswa berkebutuhan khusus.

Joseph menilai pengalaman langsung tersebut penting untuk membangun pemahaman masyarakat mengenai inklusi.

“Supaya semangat untuk peduli inklusi mampu mempunyai sikap ramah inklusi, terbiasa dan punya pengalaman. Ini bisa terus memotivasi diri sendiri, warga sekitar maupun orang lain mengenai bagaimana ramah terhadap inklusi,” katanya.

Ia berharap keterlibatan dunia usaha dalam kegiatan inklusi terus bertambah.

Menurutnya, kepedulian terhadap penyandang disabilitas semestinya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Baca Juga  Pemkab Kendal Galang Gerakan Bersama Lawan Stunting, Wujudkan Generasi Emas Sehat dan Cerdas

Joseph mengatakan kolaborasi antara Universitas Stekom dan SLB Negeri Semarang telah berlangsung sekitar empat tahun.

Kerja sama tersebut mencakup berbagai kegiatan, mulai dari perayaan Idul Adha, pelatihan, asesmen, kunjungan siswa ke kampus hingga membuka akses rekrutmen melalui mitra industri.

“Dalam hal pekerjaan, kita juga mengadakan rekrutmen. Rekrutmen dari mitra-mitra industri kita, kita undang untuk lebih peduli terhadap inklusi,” ujarnya.

Menurut Joseph, jumlah lulusan SLB yang siap diarahkan ke dunia kerja relatif terbatas. Dalam setahun, hanya sekitar 8 hingga 15 lulusan yang dapat diarahkan memasuki dunia kerja.

Karena itu, diperlukan kolaborasi dengan dunia usaha agar lulusan SLB memiliki kesempatan lebih besar memperoleh pekerjaan dan penghasilan.

Namun, Joseph mengakui masih terdapat kekhawatiran dari sebagian perusahaan untuk mempekerjakan penyandang disabilitas.

Kekhawatiran tersebut muncul karena perusahaan belum mengetahui secara detail kemampuan maupun kebutuhan calon pekerja berkebutuhan khusus.

“Sebagian besar ada pemikiran bahwa pekerjaan anak disabilitas itu bisa saja malah menambah masalah untuk perusahaannya,” katanya.

Untuk mengurangi kekhawatiran tersebut, Stekom bersama SLB memberikan informasi secara transparan mengenai kemampuan dan keterbatasan calon pekerja.

“Bagi teman-teman kita yang berkebutuhan khusus, kita berikan sesuatu yang transparan yaitu keunggulan ada, tapi tidak bisanya apa. Itu juga kita berikan secara transparan kepada perusahaan,” jelasnya.

Baca Juga  DPRD dan Pemprov Jateng Dorong Raperda Perlindungan Pekerja Informal

Dengan informasi tersebut, perusahaan dapat menyesuaikan jenis pekerjaan dengan kemampuan penyandang disabilitas sekaligus memahami kebutuhan pendampingan yang diperlukan.

Salah satu pihak yang turut terlibat dalam kegiatan tersebut adalah BNI Kantor Cabang Pamularsih Semarang.

Pemimpin BNI Kantor Cabang Pamularsih Semarang, Ita Irawati, mengatakan pihaknya baru pertama kali mengikuti kegiatan serupa.Ia mengaku terkesan melihat antusiasme siswa dan orang tua mengikuti karnaval.

Menurut Ita, kegiatan tersebut memberikan pengalaman sekaligus meningkatkan rasa syukur.

Ia juga menilai kegiatan inklusi perlu terus dilanjutkan.

“Kami siap untuk mendukung acara-acara lain yang berkemanusiaan, tetapi juga ada sisi bisnis di dalamnya,” katanya.