Ekonomi Kendal Tumbuh 8,57 Persen, Tertinggi di Jawa Tengah – Kalahkan Jateng dan Nasional

KENDAL, JURNALJATENG.ID – Kabupaten Kendal bikin kejutan. Di saat ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,71 persen dan nasional 5,29 persen, ekonomi Kendal di Triwulan II 2026 melesat hingga 8,57 persen (y-on-y).
Capaian ini diumumkan dalam Forum Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Rabu, 9 September 2026 di Ruang Ngesti Widhi, Pemkab Kendal, yang dibuka Sekda Kendal Agus Dwi Lestari dengan narasumber Kepala BPS Kabupaten Kendal, Ade Sandi.
Dengan angka ini, Kendal resmi jadi juara pertumbuhan ekonomi se-Jawa Tengah, baik y-on-y maupun kumulatif Semester I 2026 (c-to-c) yang tumbuh 8,22 persen.
Secara q-to-q, ekonomi Kendal juga tumbuh 4,17 persen.
Industri Pengolahan Jadi Mesin Utama, Pertanian Penyumbang Kedua
Pertumbuhan 8,57 persen ini bukan sulap. Ada mesin besar di belakangnya.
Industri Pengolahan jadi motor utama dengan kontribusi 41,77 persen terhadap PDRB dan tumbuh 9,71 persen, menyumbang 3,77 persen poin pertumbuhan.
Di posisi kedua ada Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yang justru jadi penyelamat pangan dengan kontribusi 17,61 persen, tumbuh 6,72 persen dan menyumbang 1,19 persen poin. Ini bukti petani di Gemuh, Pamriyan, hingga seluruh Kendal masih jadi penopang.
Lalu Perdagangan Besar dan Eceran kontribusi 12,11 persen tumbuh 8,82 persen, Konstruksi kontribusi 7,77 persen tumbuh 13,47 persen, dan Akomodasi Makan Minum kontribusi 4,40 persen tumbuh 12,37 persen.
Lima sektor itu saja sudah menyumbang 7,61 persen poin dari total 8,57 persen.

Menariknya, pertumbuhan tertinggi justru dari Pertambangan dan Penggalian 24,72 persen, disusul Konstruksi 13,47 persen, Real Estat 12,71 persen, Akomodasi Makan Minum 12,37 persen, dan Listrik Gas 12,18 persen.
Investasi Rp 6,56 Triliun, KIK Jadi Magnet
Pertumbuhan ini sejalan dengan derasnya investasi. Hingga Semester I 2026, realisasi investasi PMA dan PMDN di Kendal mencapai Rp 6,56 triliun. Tahun 2025 lalu bahkan tembus Rp 15,86 triliun, tertinggi di Jawa Tengah.
Geliatnya terlihat di Kawasan Industri Kendal (KIK). Juli 2026 lalu, pabrik ketiga PT Maxindo Karya Anugerah resmi beroperasi di KIK. Mulai dari fesyen, otomotif, elektronik, makanan minuman, furnitur hingga energi terbarukan semua tumbuh di sana.
“Pertumbuhan 8,57 persen merupakan hasil bergeraknya berbagai sektor secara bersamaan. Industri pengolahan menjadi motor utama, sementara pertanian, perdagangan, konstruksi, serta akomodasi makan minum memberikan penguatan,” jelas Kepala BPS Kendal, Ade Sandi.
PR Besar: Dari Angka Tinggi ke Dapur Warga
Forum yang dihadiri OPD, KIK, KEK, Kadin, Bulog, akademisi, dan Forum Wartawan Kendal ini juga menyoroti PR besar: bagaimana angka tinggi harus diterjemahkan jadi kesejahteraan.
Pertumbuhan tinggi harus jadi lapangan kerja, daya beli naik, dan multiplier effect bagi UMKM di sekitar kawasan industri.
Dengan modal 8,57 persen ini, Kendal punya momentum emas. Tinggal bagaimana sinergi pemerintah, dunia usaha, dan petani seperti di Pamriyan Gemuh terus dijaga agar investasi tidak hanya jadi angka di BPS, tapi jadi nasi di piring warga Kendal.
