Hari Olahraga Nasional 2026: Dari Semangat Bugar Menuju Panggung Diplomasi Asian Games

DPP GAMKI PUSAT JAKARTA : Alan Christian Singkali, S.E., M.Si.

JAKARTA – OPINI, JURNALJATENG.ID, — Setiap 9 September, Indonesia memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas). Penetapan tanggal ini merujuk pada Keputusan Presiden RI Nomor 67 Tahun 1985, yang terinspirasi dari penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I di Solo pada 9–12 September 1948.

Tahun 2026 menjadi peringatan Haornas ke-43, dengan tema resmi “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar!” yang dirilis Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) melalui Surat Edaran Menpora Nomor 9.7.44 Tahun 2026.

Tema tersebut menekankan ajakan kepada masyarakat untuk meningkatkan partisipasi berolahraga dan menjaga kebugaran, sekaligus memperkuat prestasi olahraga nasional dan ekosistem industri olahraga yang berkelanjutan.

Peringatan Haornas 2026 berlangsung tidak lama sebelum Indonesia tampil di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang.

Momentum ini menjadi relevan untuk melihat bagaimana pembinaan olahraga nasional berkaitan dengan prestasi di panggung internasional.

Asian Games 2026: Ajang Multicabang Terbesar di Asia

Asian Games Aichi-Nagoya 2026, resmi disebut XX Asian Games, berlangsung pada 19 September hingga 4 Oktober 2026 di Prefektur Aichi dan Kota Nagoya, Jepang.

Ajang tersebut diikuti 46 negara dengan 469 nomor pertandingan dari 43 cabang olahraga atau 71 disiplin.Indonesia mengirimkan 432 atlet dari 35 cabang olahraga, sebagaimana diumumkan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) pada 1 Agustus 2026, dengan target realistis empat medali emas.

Target tersebut lebih rendah dibanding perolehan emas Indonesia di Asian Games Hangzhou 2022, mengingat tantangan efisiensi anggaran dan hilangnya sejumlah nomor pertandingan potensial selama masa persiapan.

Dalam konteks ini, target medali bukan semata-mata persoalan angka. Ia merupakan gambaran dari proses persiapan yang dilakukan kontingen Indonesia dalam menghadapi kompetisi olahraga multicabang terbesar di Asia.

Asian Games menjadi panggung untuk mengukur sejauh mana hasil pembinaan olahraga nasional dapat bersaing dengan negara-negara lain.

Di sisi lain, keikutsertaan Indonesia juga memperlihatkan bahwa olahraga nasional memiliki hubungan yang erat antara pembinaan atlet, kesiapan kontingen, dukungan kelembagaan, hingga kemampuan membawa nama bangsa di arena internasional.

Baca Juga  Presiden Joko Widodo: Ruang Persaingan Yang Sehat Harus Diberi Peluang

Peran Chef de Mission dalam Menjaga Fokus Kontingen

Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dijabat oleh Todotua Pasaribu. Ia lahir di Palu, Sulawesi Tengah, pada 14 Januari 1980, dan menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Industri di Universitas Trisakti pada 2003.

Sebelum terjun ke pemerintahan, Todotua dikenal sebagai pengusaha dengan rekam jejak panjang di sektor energi dan investasi.

Ia antara lain pernah menjabat sebagai Direktur PT Chatura Indonesia pada 2012–2023 dan PT Thopas Artha Nauli sejak 2016, serta CEO Bomba Group, perusahaan holding investasi yang bergerak di bidang perkebunan, pertambangan, energi, properti, kontraktor, dan logistik.Sejak Oktober 2024, ia menjabat Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dalam Kabinet Merah Putih, dan sejak Juni 2025 juga merangkap sebagai Wakil Komisaris Utama Pertamina.

Sepanjang masa persiapan Asian Games 2026, Todotua secara rutin mengunjungi pusat pelatihan nasional untuk memetakan kesiapan atlet.

Di antaranya pelatnas panjat tebing di Bekasi, pusat latihan lompat jauh di Bali, dan pelatnas esports di Jakarta.Ia juga memimpin kunjungan kerja bersama Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari ke Tokyo dan Nagoya untuk memastikan kesiapan koordinasi kelembagaan, venue pertandingan, akomodasi atlet, sistem logistik, hingga layanan kesehatan kontingen.Ketika cuaca ekstrem dan banjir melanda Nagoya menjelang pertandingan, termasuk area Atlet Village yang berada di kawasan pelabuhan, tim CdM memastikan seluruh atlet Indonesia dalam kondisi aman dan menyiapkan alternatif tempat latihan.

Rangkaian persiapan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan kontingen tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atlet ketika bertanding.

Ada sistem pendukung yang harus dipastikan berjalan, mulai dari koordinasi kelembagaan, tempat pertandingan, akomodasi, logistik, kesehatan, hingga keselamatan atlet.

Baca Juga  Polres Kendal Tetapkan Pelajar 16 Tahun Tersangka, Tawuran Dipicu Tantangan Instagram

Olahraga sebagai Instrumen Diplomasi Luar Negeri dan Ekonomi

Persiapan kontingen turut melibatkan jalur diplomatik. Delegasi Indonesia, termasuk Raja Sapta Oktohari dan Todotua Pasaribu, mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo untuk memperkuat sinergi dukungan diplomatik, koordinasi lintas instansi, dan berbagai layanan bagi kontingen selama di Jepang.

Menjelang keberangkatan kontingen, Todotua juga menyerahkan cendera mata kepada Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Ueno Atsushi, dalam sebuah acara di Kediaman Resmi Duta Besar Jepang di Jakarta pada 8 September 2026.

Todotua secara eksplisit menyampaikan bahwa Asian Games Aichi-Nagoya 2026 bukan hanya panggung kompetisi olahraga, melainkan juga ruang untuk mempererat persahabatan panjang antara Indonesia dan Jepang, dengan harapan setiap atlet pulang membawa kebanggaan telah mengharumkan nama bangsa.

Pernyataan tersebut menegaskan dimensi olahraga sebagai instrumen diplomasi luar negeri. Relasi antarbangsa tidak hanya dibangun melalui jalur pemerintahan formal, tetapi juga melalui interaksi kontingen olahraga di negara tuan rumah.Dalam perspektif tersebut, Asian Games tidak semata-mata menjadi arena pertandingan.

Ia juga menjadi ruang perjumpaan antarmasyarakat, antarlembaga, dan antarbangsa. Atlet yang bertanding membawa identitas Indonesia sekaligus menjadi bagian dari wajah Indonesia di panggung internasional.

Penutup

Ketiga hal tersebut—tema Haornas 2026, keikutsertaan Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, dan kerja Chef de Mission Todotua Pasaribu beserta kontingen

—menggambarkan rangkaian yang saling terkait.

Dari ajakan hidup aktif dan bugar di tingkat masyarakat, menuju pembinaan prestasi di tingkat elite, hingga peran olahraga sebagai ruang mempererat hubungan Indonesia dengan negara lain di panggung internasional.

Karena itu, Haornas 2026 layak dipandang bukan hanya sebagai peringatan olahraga nasional, tetapi sebagai momentum untuk melihat olahraga secara lebih luas.

Baca Juga  Pekan Menyusui Dunia 2020: Menyusui Secara Aman Selama Pandemi Covid-19

Olahraga dimulai dari masyarakat, berkembang melalui pembinaan prestasi, dan dapat menjadi kekuatan diplomasi bangsa.

Dari semangat masyarakat untuk hidup aktif dan bugar, Indonesia membangun fondasi olahraga nasional. Dari fondasi tersebut lahir atlet yang membawa nama bangsa. Dan ketika atlet Indonesia tampil di panggung internasional, olahraga menjadi bagian dari cara Indonesia membangun persahabatan dengan negara lain.

Pada akhirnya, keberhasilan olahraga bukan hanya tentang berapa banyak medali yang dibawa pulang. Lebih dari itu, olahraga adalah tentang bagaimana membangun masyarakat yang aktif dan bugar, memperkuat prestasi nasional, serta membawa semangat persahabatan Indonesia ke dunia.

Haornas 2026 menjadi pengingat bahwa olahraga bukan sekadar pertandingan. Olahraga adalah bagian dari pembangunan masyarakat, prestasi bangsa, dan diplomasi Indonesia.

Referensi

detikcom, “Hari Olahraga Nasional 2026: Tema &

Logo Resmi serta Twibbonnya”,
https://www.detik.com/sulsel/makassar/d8655276/hari-olahraga-nasional-2026-tema-logoresmi-serta-twibbonnya
2. detikcom, “HAORNAS 2026: Tema, Logo, dan
Sejarah Panjang Olahraga RI”,
https://www.detik.com/jabar/jabar-gaskeun/d8654172/haornas-2026-tema-logo-dan-sejarahpanjang-olahraga-ri
3. detikcom, “Hari Olahraga Nasional 2026: Sejarah,
Tema dan Logo”, https://news.detik.com/berita/d-

(RED/TIM)