GM Pelindo Tanjung Emas Semarang Capt. S Joko: Target Kami Bukan Lokal, Tapi Kancah Global

SEMARANG,JURNALJATENG.ID – Sosoknya tak banyak muncul di publik. Sebagai General Manager PT Pelindo Tanjung Emas Semarang, Capt. S Joko lebih banyak bekerja di balik layar, memastikan denyut pelabuhan terbesar di Jawa Tengah itu tetap stabil.
“Bukan kami tidak mau berinteraksi, tetapi komitmen dan tanggung jawab menuntut segala sesuatunya terukur,” ujar pria kelahiran Kediri, Jawa Timur itu saat ditemui di ruang kerjanya, Jl. Coaster Kompleks Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
Joko resmi menakhodai Tanjung Emas sejak Oktober 2025. Sebelumnya ia bertugas di Bengkulu, dengan portofolio menuntaskan sejumlah proyek strategis mulai pengerukan alur pelayaran hingga pengembangan fasilitas ekspor kontainer daerah. Modal itulah yang ia bawa untuk berlabuh di Semarang.
Di bawah komandonya, Pelindo Tanjung Emas kini bertengger di peringkat ketiga nasional setelah Tanjung Priok dan Tanjung Perak. Namun baginya, persaingan sesama Pelindo bukan tujuan akhir.
“Tanjung Emas sekarang berada di peringkat ketiga. Tapi target dan kompetitor kami bukan sesama Pelindo, kita harus mampu bersaing secara global,” tegas Capt. S Joko.
Optimisme itu bukan tanpa alasan. Tanjung Emas adalah instalasi vital yang menyangga arus barang dan penumpang, sekaligus pintu masuk perdagangan global untuk Jawa Tengah dan sekitarnya.
Karena itu, setiap kebijakan ia kaji mendalam. Tidak grusa-grusu, apalagi mengambil langkah kontroversial yang berisiko bagi stabilitas dan kondusivitas pelabuhan.
“Ini merupakan instalasi vital. Menjalankan amanah di Tanjung Emas menuntut sigap dan tanggap,” tambahnya.
Untuk menjaga performa, Joko mengedepankan sinergi dan akselerasi bersama pemangku kebijakan. Ia menyebut sedikitnya lima kementerian sebagai pilar penyangga operasional.
Pertama, Kementerian BUMN sebagai pemegang saham mayoritas dan pembina korporasi yang berwenang dalam tata kelola bisnis, penunjukan direksi-komisaris, hingga kinerja keuangan.
Kedua, Kementerian Perhubungan sebagai regulator teknis melalui Ditjen Perhubungan Laut dan KSOP/Otoritas Pelabuhan.
Selanjutnya Kementerian KKP, Kementerian Perdagangan dan Perindustrian, serta Kementerian Keuangan yang kini membidangi langsung Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
“Kami harus selalu membangun sinergi positif. Ada sejumlah kementerian yang memiliki relasi teknis dan sinergi regulasi di lapangan. Itu yang terus kami bangun,” pungkasnya.
(JJID/RED/SFK)
