Media Sosial dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Sehari-hari

Media merupakan sarana penting dalam proses penyebaran informasi kepada masyarakat.

Seiring perkembangan teknologi, media dapat diklasifikasikan menjadi media arus utama (mainstream) dan media sosial.

Media mainstream meliputi media cetak, radio , televisi maupun media online yang dikelola oleh lembaga resmi dengan struktur redaksi yang jelas dan telah terverifikasi oleh dewan pers.

Contoh surat kabar cetak seperti Kompas, Suara Merdeka , Jawa Pos, dan Majalah mingguan Tempo.

Sedangkan media elektronik , stasiun televisi seperti TVRI, Metro TV, dan Kompas TV, serta radio RRI dan Elshinta.

Untuk media online, seperti detik, kumparan, kompas.com dan berbagai media lainya yang telah terdaftar di dewan pers.

loading...

Informasi yang disajikan oleh media mainstream umumnya melalui proses seleksi, verifikasi, dan penyuntingan sebelum dipublikasikan.

Tingkat akurasi dan kredibilitasnya dapat diukur dari penerapan cek fakta, kejelasan identitas redaksi, kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik, penggunaan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, serta adanya hak jawab dan mekanisme koreksi.

Oleh sebab itu, media mainstream cenderung memiliki tingkat kepercayaan publik yang lebih tinggi.

Berbeda dengan media mainstream, media sosial merupakan media digital yang bersifat terbuka dan partisipatif.

Setiap individu dapat berperan sebagai produsen sekaligus konsumen informasi tanpa melalui proses penyaringan yang ketat.

Platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, dan X memungkinkan arus informasi bergerak sangat cepat.

Namun, kebebasan ini juga meningkatkan risiko penyebaran informasi yang tidak akurat, menyesatkan, bahkan bersifat manipulatif.

Dalam kehidupan sehari-hari, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan, khususnya bagi generasi muda.

Baca Juga  Kelompok Ojek Online Pekalongan Dukung Andika-Hendi, Soroti Infrastruktur dan Ekonomi Lokal

Aktivitas seperti membuka Instagram saat bangun tidur, menggulir TikTok di waktu istirahat, atau mengakses YouTube dan X pada malam hari telah menjadi kebiasaan umum.

Media sosial tidak lagi sekadar berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi diri, pertukaran gagasan, serta pembentukan opini publik.

Manuel Castells dalam Communication Power (2009) menjelaskan bahwa masyarakat modern hidup dalam jaringan komunikasi yang bergerak sangat cepat.

Sebuah unggahan dapat menyebar luas hanya dalam hitungan detik. Sayangnya, kecepatan tersebut sering tidak diimbangi dengan kesadaran untuk memeriksa kebenaran informasi.

Akibatnya, hoaks dan informasi menyesatkan mudah dipercaya dan dibagikan secara luas.

Hoaks di media sosial kerap muncul dalam berbagai bentuk, seperti berita palsu terkait kebijakan pemerintah yang tidak pernah dikeluarkan, klaim kesehatan tanpa dasar ilmiah, hingga potongan video atau kutipan yang dilepaskan dari konteks aslinya.

Selain itu, penggunaan judul sensasional atau clickbait yang tidak sesuai dengan isi konten juga sering menyesatkan audiens.

Pandangan ini sejalan dengan pendapat Denis McQuail dalam Mass Communication Theory (2010) yang menyatakan bahwa media memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir dan bersikap masyarakat.

Di media sosial, pengaruh tersebut semakin kuat karena setiap individu dapat menjadi “media” bagi orang lain.

Opini personal yang disebarkan secara masif berpotensi berubah menjadi kebenaran versi publik.

Jika ditinjau melalui Teori Agenda Setting dari McCombs dan Shaw, media memiliki kekuatan dalam menentukan isu apa yang dianggap penting.

Baca Juga  Ketua BK DPRD Jateng: Mahasiswa Harus Pegang Teguh Nilai Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Dalam konteks media sosial, isu yang dianggap penting sering kali bukan yang paling berdampak, melainkan yang paling viral.

Akibatnya, isu-isu substansial dapat tersisih oleh konten sensasional yang minim nilai informatif.

Sementara itu, Jürgen Habermas melalui Teori Tindakan Komunikatif menekankan bahwa komunikasi ideal seharusnya berlangsung secara rasional, jujur, dan saling menghargai.

Namun, praktik komunikasi di media sosial kerap diwarnai emosi berlebihan, sindiran, dan serangan personal.

Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menangkal hoaks melalui peningkatan literasi media, pemeriksaan sumber informasi, perbandingan dengan media mainstream yang kredibel, serta sikap tidak tergesa-gesa dalam menyebarkan informasi.

Pada dasarnya, pengaruh besar media sosial dalam kehidupan sehari-hari bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara pengguna memanfaatkannya.

Tanpa literasi media dan etika komunikasi, media sosial berpotensi menimbulkan kesalahpahaman hingga konflik sosial.

Berdasarkan pembahasan tersebut, masyarakat—khususnya generasi muda sebagai pengguna aktif media sosial—perlu meningkatkan literasi media secara sadar dan berkelanjutan.

Pengguna diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu bersikap kritis terhadap konten yang bersifat provokatif, sensasional, dan viral.

Kebiasaan memverifikasi informasi sebelum membagikannya menjadi langkah penting dalam mengurangi penyebaran hoaks di ruang publik digital.

Selain itu, penerapan etika komunikasi dalam menyampaikan pendapat di media sosial juga sangat penting.

Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar, namun seharusnya disampaikan secara rasional dan santun.

Peran keluarga dan institusi pendidikan turut dibutuhkan dalam menanamkan nilai tanggung jawab serta kesadaran berkomunikasi, sehingga media sosial dapat dimanfaatkan sebagai ruang diskusi yang sehat dan konstruktif.

Baca Juga  Jhony Santosa Ajak Keluarga Besar Healing ke Dieng, Gunung Kidul, dan Jogja

Ke depan, media sosial diharapkan dapat berfungsi sebagai ruang publik digital yang lebih berkualitas dan bermanfaat.

Tidak hanya sebagai sarana hiburan atau ajang perdebatan emosional, tetapi juga sebagai medium pertukaran gagasan, perluasan wawasan, dan pembentukan kesadaran sosial.

Dengan meningkatnya literasi media, pengguna diharapkan mampu memilah isu yang benar-benar penting dan tidak mudah terpengaruh oleh konten yang semata-mata viral.

Sebagaimana dikemukakan Denis McQuail, audiens merupakan pihak yang aktif dalam proses komunikasi.

Setiap unggahan, komentar, dan respons yang diberikan memiliki kontribusi dalam membentuk opini publik.

Dengan kesadaran tersebut, media sosial diharapkan dapat memberikan dampak positif yang lebih besar serta mendukung terciptanya komunikasi publik yang sehat, beretika, dan bertanggung jawab.

Farra Dian Septina Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro