Cengklungan Seni Khas Temanggungan, Asli Dari Kabupaten Temanggung.

Temanggung, jurnaljateng.id, Ekspansi roda modernisasi yang melibas semua lini, baik budaya dan teknolgi membuat kesenian tradisional juga terkena dampaknya meski masih mampu bertahan hidup dengan segala keterbatasan.

Itu semua karena semangat para senimannya untuk tetap berjuang melestarikan budaya warisan leluhur ini.

Generasi sekarang tak banyak yang tahu apakah cengklungan itu. Ini dibuktikan dengan hanya beberapa orang dari generasi sekarang, yaitu anak muda Temanggung yang tahu tentang kesenian tradisional ini.

Dalam Festival Budaya Temanggung yang digelar dalam rangka memeriahkan hari jadi ke-175 Kabupaten Temanggung, kesenian cengklungan turut serta memeriahkannya.

Selain itu grup-grup kesenian lain yang berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Temanggung tak ketinggalan ikut berpartisipasi. Kesenian tradisional tersebut antara lain: warokan, kuda lumping, sorengan, ndayakan, kubro, siteran, petilan wayang, bangilun, prajuritan, tayub, srandul, wulangsunu, cokekan, barsomah dan lain-lain.

Dari sekian banyak kesenian tradisional yang ditampilkan, cengklungan ternyata mampu menyita perhatian para penonton.

Kebanyakan dari para penonton cukup antusias menikmati penampilan para seniman cengklungan yang memang sudah amat jarang ditemukan keberadaannya.

loading...

Tak heran jika para penonton langsung bergerak maju ingin menyaksikan kesenian ini dari dekat begitu nama cengklungan disebut oleh panitia.

Dalimin WS, sesepuh sekaligus pelatih seni cengklungan dari Desa Geblok Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, bersama rekan-rekannya dengan gigih dia mencoba mengenalkan kembali tradisi yang hampir punah ini. Menurut pria berusia 60 tahun itu asal mula cengklungan memang masih tanda tanya.

Dia mengatakan jika kesenian yang satu ini boleh dikata masih kabur sehingga hingga kini tidak diketahui secara pasti siapa yang mula-mula memperkenalkan. Namun menurutnya, pada jaman penjajahan Belanda kesenian itu sudah ada. Bahkan hampir di seluruh pelosok desa di Temanggung kala itu kesenian cengklungan lazim dimainkan bila sedang ada acara-acara tertentu seperti perkawinan atau khitanan.

Baca Juga  Grebeg Besar Demak Tahun ini Dipastikan Tidak akan di Gelar.

Pak Dalimin memang sudah menjadi legenda di dalam kesenian Cengklungan ini. Pertama kali belajar cengklungan pada saat masih berusia 10 tahun dengan dilatih oleh ayah dan kakeknya, dia menjadikan cengklungan salah satu kesenian yang diperhitungkan di Temanggung. Semenjak terjun di dunia ini pula beliau tidak pernah letih mengajarkan cengklungan kepada masyarakat dan warga sekitar tempat tinggalnya.

Sudah sekitar 10 tahun ini dia mendirikan Paguyuban Seni Cengklungan di tempat tinggalnya di desa Geblok, Kaloran, Temanggung. Meskipun jumlah peminatnya masih sedikit, pria berkacamata ini tetap yakin bila perkembangan cengklungan akan dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas.

Tiap hari senin dan rabu malam, suara khas cengklungan berkumandang di depan balai desa Geblog. Para Seniman dari Paguyuban Seni Cengklungan ternyata sedang melakukan latihan. Mereka memainkan lagu-lagu langgam jawa dan lagu-lagu jaman sekarang.

Tak jarang warga sekitar yang sedang menontonpun ikut bernyanyi dan larut dalam suasana malam. Latihan seperti ini memang rutin digelar dua kali tiap minggu. Dengan anggota sekitar 25 orang, paguyuban ini siap tampil bila ditanggap oleh pihak-pihak yang sedang punya hajat. Contohnya mereka pernah tampil di acara-acara pengajian, pernikahan, khitanan, dan lain-lain. Bahkan bapak Bupati Temanggung pun sering mengundang mereka pada saat acara-acara khusus di Pendopo Kabupaten.

Baca Juga  Bisnis Online, Suharti Beli Kelapa Tertipu Rp 31,2 Juta

Selanjutnya masih menurut Pak Min, begitu dia dipanggil, cengklungan sebenarnya bercerita tentang kehidupan petani. Setiap gerakannya menggambarkan tarian petani dalam mengolah tanah pertaniannya.

Ada gerakan mencangkul, menanam padi, menyiangi padi, menghalau burung, menuai sampai menumbuk padi.

Sebenarnya dulu kesenian ini diciptakan dengan tidak sengaja. Yaitu berawal dari spontanitas para penggembala yang sedang menunggu ternaknya, mereka berkreasi memodifikasi payung kruduk dengan suket grinting dan bambu, ternyata tingkah polah mereka mampu mengeluarkan bunyi-bunyi yang harmonis ditambah nyanyian rakyat.

Uniknya alat musik pengiring yang bernama cengklung tersebut, berasal dari payung kruduk (sejenis payung/mantol) yang dulu sering digunakan para penggembala ternak ketika musim hujan.

Payung kruduk yang kini jarang kita temui, ternyata tersimpan di sebuah museum di Den Haag Belanda. Benda ini terbuat dari bambu, clumpring, ijuk dengan dawai dari suket (rumput) grinting.

Keseluruhan alat musik pengiring terdiri dari empat payung kruduk dan satu buah seruling bambu. Cengklung itu sendiri dibagi menjadi beberapa fungsi yakni bass, kendang ketuk, kenong dan melodi/siter.

Kini para seniman cengklung itu berupaya untuk lebih memasyarakatkan seni tersebut baik di Temanggung maupun di luar kota. Tahap regenerasi pada kaum muda pun terus diupayakan demi kelangsungan hidup kesenian khas Temanggung ini. Namun demikian mereka kini dengan semangat dan tetap berharap mendapat dukungan dari Pemkab Temanggung serta masyarakat luas. Mereka juga berkeinginan untuk memiliki kostum tersendiri khas Cengklungan.

Baca Juga  Pelaku Seni dan Budaya Diharapkan Untuk Terus Berkarya

Salah satu upaya agar kesenian cengklungan ini lebih memasyarakat, Pemerintah Daerah Kabupaten Temanggung mewajibkan di setiap kegiatan di daerah-daerahnya, menampilkan atraksi kesenian ini. Kegiatan ini membutuhkan partisipasi masyarakat pada umumnya dan instansi terkait pada khususnya.

Tujuannya adalah untuk melestarikan kebudayaan asli Indonesia dan hal yang paling penting dari itu semua adalah agar kebudayaan asli Nusantara tercinta ini tidak hilang karena diklaim oleh negara lain.

Tentunya sedih hati ini bila hal tersebut sampai terjadi.Kelak kesenian cengklungan ini dapat bersaing dengan kesenian tradisional lain di Indonesia. Bukan tidak mungkin cengklungan dapat sejajar dengan angklung dari Jawa Barat atau Sasando Rote dari Nusa Tenggara Timur yang lebih dikenal orang bila pemerintah dan pihak-pihak terkait serius untuk mengembangkan kesenian ini. (Dewimawa/JJID)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *