Facebook Diboikot Brand Harta Zuckerberg Terkikis

jurnaljateng.id, Aksi boikot yang dilakuka perusahaan internasional menyebakan kekayaan Mark Zuckerberg terkikis hingga USD 7,21 atau setara Rp 103 Triliun.

Beberapa perusahaan internasional menyatakan untuk menghentikan beriklan secara digital di Facebook. Diantaranya Coca-Cola Company, Hershey Co hingga Verizon, saham jejaring media sosial itu langsung turun bebas. Penurunan sahamnya 7 hingga 8,3 persen pada Jumat kemarin (26/06/2020).

Dilansir dari halaman Bloomberg, Pada penutupan perdagangan Jumat (26/062020) waktu setempat, saham Facebook merosot hingga 8 persen lebih. Akibat dari dampak boikot pemasangan iklan di jejaring media sosial itu.
Gara-gara hal tersebut, gelar Zuckerberg sebagai orang terkaya ketiga di dunia jadi goyah. Berdasarkan Bloomberg Billionares Index, raibnya kekayaan Zuckerberg ini menjadikannya turun peringkat menjadi orang terkaya nomor empat di dunia.

Untuk sementara peringkat ketiga orang paling kaya di dunia diduduki oleh Bernard Arnault, bos brand fesyen Louis Vuitton.

Sementara untuk peringkat pertama dan kedua masih tetap diduduki jeff Bezos dan Bill Gates.

Baca Juga  Postingan Facebook Berujung Kerusuhan Di Bengaluru

Coca-Cola adalah pengiklan teranyar yang mendukung kampanye bertajuk #StopHateforProfit yang digencarkan oleh kelompok aktivis hak asasi manusia AS.

“The Coca-Cola Company akan menghentikan iklan berbayar di seluruh media sosial secara global selama setidaknya 30 hari. Kami akan memanfaatkan waktu ini untuk mempelajari kembali kebijakan iklan kami guna mempertimbangkan apakah revisi dibutuhkan. Kami juga mengharapkan akuntabilitas dan transparansi yang lebih besar dari mitra-mitra media sosial kami,” imbuh Quincey.

loading...

Kampanye #StopHateforProfit diluncurkan pada 9 Juni 2020 pasca kematian George Floyd oleh petugas kepolisian Minneapolis AS. Hal tersebut menimbulkan gelombang protes di seluruh dunia. Adapun Facebook menolak untuk menghapus unggahan Presiden AS Donald Trump, yang mengancam bakal menerapkan tindakan kekerasan kepada para pengunjuk rasa.

Pada dasarnya, kampanye tersebut mengajak para brand internasional yang terbiasa mengeluarkan anggaran untuk beriklan di media sosial besar. Terutama Facebook, agar menunda aktivitas beriklan pada Juli mendatang. Secara halusnya, mereka meminta solidaritas para brand agar tidak beriklan di Facebook.

Baca Juga  Bisnis Online, Suharti Beli Kelapa Tertipu Rp 31,2 Juta

Di Lansir dari Useetv Para aktivis merasa Facebook sebagai perusahaan teknologi yang menyediakan platform raksasa jejaring media sosial. Facebook di rasa belum cukup bijak dalam menyikapi peristiwa rasisme yang terjadi di AS.

“Mereka [Facebook] membiarkan hasutan terhadap kekerasan yang melawan para demonstran yang berjuang demi keadilan isu rasial di Amerika setelah kasus George Floyd, Breonna Taylor, Tony McDade, Ahmaud Arbery, Rayshard Brooks, dan masih banyak lagi,” tulis situs stophateforprofit.org.

Dari sini, Facebook dianggap menutup mata terhadap penindasan yang dialami para pejuang keadilan sosial dan rasial di AS.

“Apakah Facebook bisa melindungi dan mendukung pengguna kulit hitam? Bisakah Facebook menyebut penyangkalan Holocaust sebagai kebencian? Bisakah Facebook membantu bersuara? Mereka tentu bisa. Tapi mereka secara aktif memilih untuk tidak melakukannya. 99 persen pendapatan USD 70 miliar Facebook berasal dari iklan. Sekarang para pengiklan akan mendukung siapa? Mari beri pesan kuat untuk Facebook: keuntunganmu tidak akan pernah sepadan dengan mempromosikan kebencian, kefanatikan, rasisme, antisemitisme, dan kekerasan,” begitu tulisan di dalam situs kampanye tersebut.

Baca Juga  Perlindungan Data Konsumen, Kemendag dan Kominfo Harus Berkoordinasi Dan Bersinergi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *