Masa New Normal Pedagang dan Produsen Batik Pekalongan Mulai Mengeliat

Kota Pekalongan, Jurnaljateng.id Setelah vakum beberapa bulan akibat pandemi Covid-19 yang menyerang berbagai macam lini. Salah satunya adalah sektor ekonomi, sangat dirasakan dampaknya oleh para pedagang dan Produsen, misalnya adalah Batik Sarung Pekalongan.

Saat Memasuki masa transisi New Normal, para pedagang sudah mulai bergeliat, diantaranya menjajakan dagangannya. Para Produsen sarung batik di Kota Pekalongan secara perlahan menampakan eksistensinya. Begitu juga para pemilik usaha tekstil optimis barang-barang dagangannya akan kembali di buru pelanggan.

Mastur, pemilik rumah produksi sarung batik di Kota Pekalongan mengungkapkan, bahwa pandemi Covid-19 ini sangat berimbas terhadap penjualan sarung batik produksinya. Namun era New Normal mulai diberlakukan, permintaan produksi dan pesanan-pesanan mulai kembali berdatangan.

“Di era adaptasi kebiasaan baru ini sedikit demi sedikit permintaan sudah mulai ada peningkatan dibandingkan pada saat adanya Covid-19,” jelas Mastur saat berdialog dengan Wali Kota Pekalongan, di rumah produksinya, di Kelurahan Pringrejo, Kecamatan Pekalongan Barat, Sabtu(18/7/2020).

Baca Juga  Relaksasi PSBB Di Tegal Dengan Membuka Beberapa Ruas Jalan

Tapi ada kendala lanjutnya, dimana kendala yang di alami ada keterbatasan pengiriman ke luar daerah. Dan langkanya bahan baku untuk produksi juga menjadi permasalahan. Rumah produksinya dalam sehari bisa produksi satu kodi. Permintaan biasanya datang dari luar kota, kebanyakan datang dari daerah Kudus, serta kota atau kabupaten di Jawa Timur.

Sementara itu, Wali Kota Pekalongan, HM Saelany Machfudz, menyatakan, Pemerintah Kota Pekalongan telah menggagas pemakaian sarung batik sejak 2018 lalu. Peluncuran tersebut merupakan bagian dari upaya Pemkot Pekalongan untuk mempertahankan predikat Kota Kreatif yang diberikan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Baca Juga  Bahas Penanggulangan Kemiskinan, Wakil Gubernur Jateng Kunjungi Sragen

Saelany menjelaskan, pemakaian sarung batik merupakan budaya masyarakat Pekalongan tempo dulu, serta tradisi yang harus terus dihidupkan dari generasi ke generasi.

loading...

“Memang ini ada siklusnya ketika awal di-launching sarung batik ini booming luar biasa, pesanan-pesanannya dari luar daerah. Namun, ketika adanya pandemi Corona sedikit agak lesu karena para pengrajin sempat vakum berjualan beberapa bulan,” terang Saelany.

Wali kota berharap, pemberlakuan masa adaptasi kebiasaan baru dapat membuka peluang bagi para perajin sarung batik untuk tetap berkreasi. Sehingga, terciptalah berbagai produk yang berkualitas.

“Sarung batik ini tidak hanya dipakai oleh para santri, tetapi siapa pun masyarakat bisa pakai. Sudah kita terapkan pemakaian sarung batik pada ASN Pemkot. Kami juga akan meminta instansi vertikal, perbankan, BUMN, BUMD, dan instansi swasta menerapkan hal serupa,” papar Saelany. (DIKP/JJID)

Baca Juga  Kades Cepiring, Bersama Forkompincam Tanggulangi Tanggul Sungai Bodri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *