Fransisca Juara Satu Karate Piala Pangdam, Tuhan Menjamah Hati Saya

JURNALJATENG.ID, SEMARANG – Pada awalnya tidak ada rasa tertarik untuk menjadi hamba Tuhan, tetapi saat cidera lalu oprasi dan pasca oprasi merasa Tuhan benar-benar menjamah hatinya, namun ia masih saja mengeraskan hatinya.

Tahun 2019 sebagai tahun terakhir bagi Pemegang Juara 1 piala Pangdam dan juara 3 panglima TNI, Fransisca Adelia Serenity dibawah bimbingan Senpai Garuda Mahameru dan Sensei Eko Saat mengikuti event pertandingan karate dalam perebutan piala Panglima TNI di Gor Ciracas, Jakarta. Membawa nama Jawa Tengah, terkhusus PPLOP Jateng.

Kejadian dimana Adelia mengalami cidera disaat try out untuk event popnas pelajar. Pada saat final bertemu musuh bebuyutannya.

Saat itu mungkin Adelin ingin mempertahankan kemenangan sebelumnya sehingga kemauan dan rasa tak ingin dikalahkan tertanam dalam dirinya. Namun tuhan berkehendak lain. Ia mengalami cidera yang cukup parah.

Baca Juga  Pandemi Covid-19, Pembatasan Berujung Peniadaan Kegiatan Masyarakat

“Saya cidera dislokasi lutut hingga memaksa saya harus radiologi MRI karena diagnosa ligamen bermasalah di lutut saya,” Cerita Pemegang juara 3 Karate piala Panglima TNI.

Tepatnya Tanggal 6 Oktober 2019, ia mengalami cidera.

Ia mengungkapkan bahwa hasil MRI menyatakan ligamen ruptur total alias putus dan harus menjalankan operasi untuk rekonstruksi ulang.

loading...

“Pada hari H saya harus berangkat popnas pelajar saat itu pula saya menjalankan operasi di kariadi semarang,” ungkapnya

Beberapa bulan Setelah kejadian tersebut, mamanya membuat keputusan untuk dirinya dengan memasukan ke Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara (STTKN) Ungaran, Kabupaten Semarang, ambil Program Studi Pendidikan Agama Kristen (PAK) .

Baca Juga  7 Perwira TNI-Polri Lulusan Terbaik Sespimti dan Sespimmen 2020

“Ternyata memberi dampak baik bagi saya,”Kata Andelin

Dari situ dirinya benar-benar merasa dipulihkan dan baru mengenal Tuhan. Dengan bantuan lingkungan yang mendukung dirinya mulai menyadari akan panggilan Tuhan, sehingga hatinya mulai melunak dan ada hasrat untuk menjadi pelayan Tuhan yang setia.

“Puji Tuhan, merasa benar benar bertumbuh secara rohani, tidak hanya beribadah untuk formalitas tetapi ada kerinduan akan hadirat Tuhan dan merasakan firman Tuhan yang begitu memberkati hidup saya sehingga ada ambisi untuk menghidupi firman tersebut,” Pungkasnya.

Baca Juga  Jelang Pergantian Tahun, Kapolda Jateng Tinjau Perbatasan Cepu-Jatim

Diceritakan : Fransisca Adelia Serenity
Ditulis : Yudihendrilia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *