Buat Artikel Jurnal Ilmiah Jadi Buku Referensi Itu Mudah, Minimal Modal Semangat

Artikel jurnal ilmiah biasanya hanya dikonsumsi kalangan akademisi saja, sebab tidak mudah untuk memahami artikel jurnal ilmiah bagi banyak orang. Sayang kalau artikel jurnal ilmiah hanya dinikmati diri sendiri dan kelompok tertentu sehingga akan terasa kurang manfaatnya. Artikel jurnal ilmiah dapat dikonversi menjadi buku referensi sehingga dapat di sebarluaskan dan di baca bayak orang. Selain itu, buku Referensi juga dapat untuk memperoleh poin kredit.

Banyak yang merasa kesulitan dan terkendala untuk memulai melakukan penulisan buku referensi. Dilansir dari penerbitdeepublish, sebenarnya menulis buku referensi itu mudah jika tahu kunci dan jurus jitunya. Minimal memiliki semangat terlebih dahulu dan sebagai modal utama adalah keinginan dan tujuan.

Sebenarnya menulis buku referensi itu mudah jika tahu kunci dan jurus jitunya. Disini jurnaljateng.id akan memberikan panduan membuat buku Referensi yang di lansir dari penerbitdeepublish.

Sebelum melangkah lebih jauh, perlu pemahaman apa yang di maksud buku referensi. Buku Referensi adalah suatu tulisan ilmiah dalam bentuk buku yang substansi pembahasannya fokus pada satu bidang ilmu. Buku tersebut membahas topik yang cukup luas (satu bidang ilmu). Urutan materi dan struktur buku teks disusun berdasarkan logika bidang ilmu (content oriented).

Buku ini diterbitkan secara umum dan dipasarkan (Panduan Penulisan Buku Teks, Dikti). Kumpulan monograf untuk satu bidang ilmu dapat menjadi buku referensi. Format penerbitan untuk saat ini dapat berupa Hard (Cetak Fisik) dan Soft (E-Book).

Berikut beberapa kunci menulis buku Refensi lebih mudah.

Mengenali Lebih Dalam Apa Itu Buku Referensi
Tahukah Anda, ternyata buku referensi salah satu buku yang diakui oleh Dikti. Itu sebabnya, buku referensi juga sering digunakan sebagai syarat kenaikan jabatan ataupun untuk memperoleh nilai kum. Dari segi isi, buku referensi termasuk media yang memuat informasi dan fakta dibidang ilmu tertentu. Umumnya ditulis dengan bahasa yang lebih padat, sarat dengan informasi dan disampaikan menggunakan bahasa yang lebih ringkas.

loading...
Baca Juga  Kemendikbud Kembali Luncurkan Program Mengajar dari Rumah

Buku referensi pada dasarnya memiliki perbedaan banyak dengan artikel jurnal ilmiah. Dari segi ketebalan isi, artikel jurnal ilmiah dikemas hanya 15 halaman sampai 25 halaman saja. Sedangkan buku referensi bisa mencapai 100 halaman lebih. Dari esensi isi, intinya bisa sama. Hanya berbeda pada penyampaian. Buku referensi dikemas lebih detail dan lebih menyeluruh, sebaliknya, artikel jurnal ilmiah dibuat secara garis besarnya saja. Karena lebih fokus pada metodologinya.

Kuasai Penyajian Data
Penyampaian pesan yang ditulis sebenarnya tidak jauh beda dari artikel jurnal ilmiah. Hanya saja panyampaian gaya bahasa di buku referensi menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami. Misalnya, artikel jurnal ilmiah menyampaikan data lebih banyak, maka ketika dikonversi ke dalam buku referensi, data tersebut dapat diuraikan lebih sederhana dan simpel.

Menguraikan data yang masih berbentuk angka misalnya, perlu diterjemahkan ke dalam bahasa yang sederhana. Kenapa demikian, karena pembaca buku referensi tidak semuanya bisa membaca data angka. Pada prinsipnya, fokus penulisan buku referensi tidak hanya menekankan pada jumlah data dan referensi saja, tetapi juga memperhatikan kemasan bahasa tulis, apakah komprehensif atau tidak.

Melihat Pangsa Pasar
Menulis buku referensi memang berbeda ketika menulis artikel jurnal ilmiah. Jika artikel jurnal ilmiah lebih fokus pada hasil penelitian dan ulasannya saja. Pada buku referensi, lebih mengutamakan apa yang dibutuhkan oleh pasar/pembaca.

Baca Juga  Ganjar Pranowo: Januari Belum Bisa Semua Tatap Muka

Di lihat dari segmentasinya, artikel jurnal ilmiah hanya diperuntukan untuk kalangan tertentu saja, yaitu untuk kalangan akademisi saja. Sedangkan buku referensi diperuntukan oleh banyak kalangan. Oleh sebab itu, penulis buku referensi juga memperhatikan segmentasi pasar apa yang akan disasar. Apakah akan menyasar kalangan pelajar SMA? Kuliah? Atau untuk umum?

Memperhatikan segmentasi pasar/pembaca terbukti efektif membantu dalam menyusun buku referensi. Khususnya membantu dalam menentukan penggunaan bahasa yang dan cocok.

Perhatikan Penggunaan Bahasa Penulisan
Setelah penulis menentukan pangsa pasar, penulis akhirnya dapat memutuskan gaya penulisan yang akan digunakan. Prinsip pemilihan bahasa penulisan, pastikan juga tetap memperhatikan penggunaan gaya bahasa yang padat, komunikatif dan tetap formal. Seorang penulis buku referensi memposisikan sebagai calon pembaca. Tujuannya adalah, agar terjadi emosi antara penulis dan pembaca.

Ketika emosi penulis berhasil membuat pembaca merasa nyaman, itulah keberhasilan penulis. Tidak dapat dipungkiri banyak buku yang sebenarnya bagus, namun akhirnya tidak diminati karena penggunaan bahasa yang terlalu tinggi. Satu poin penting, saat menulis, hindari penggunaan bahasa ilmiah atau istilah terlalu banyak. Karena segmentasi pembaca dari kalangan yang bisa jadi tidak tahu tentang istilah asing.

Jika ingin menyantumkan bahasa asing dan ilmiah, bisa memberikan catatan kaki atau keterangan. Di poin ini, penulis justru disarankan untuk menuliskan menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh orang yang tidak tahu ilmu sama sekalipun.

Baca Juga  Tahan Ijazah, Kepala Sekolah Terancam Dicopot

Mengetahui Bahasa Simbol
Kita tahu bahwa setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Ada tipe orang yang lebih mudah belajar secara audio, ada pula yang secara visual, dan ada yang menggunakan audio – visual. Ketika menulis buku referensi yang disarankan, tidak ada salahnya untuk menyertakan indeks alfabetis, atau bisa juga menyertakan diagram, bagan atau semacamnya. Fungsinya jelas, membantu pembaca mudah memahami pesan.

Selain menggunakan simbol, demi memudahkan pembaca, tidak ada salahnya menyertakan ilustrasi. Ilustrasi ini juga akan membantu kognitif pembaca lebih mudah menangkap maksud pesan yang dimaksudkan. Jika ilustrasi terlalu sulit, tidak ada salahnya pula membuat bagan yang menerangkan inti dari uraian yang dijelaskan.

Itulah beberapa poin penting menulis buku referensi. Pada dasarnya buku referensi dibuat tidak sekedar sebagai buku pegangan atau buku pengayaan. Keberadaan buku referensi ini juga berfungsi seperti buku handbook, guidebooks, peta, buku indeks-abstrak, ensiklopedia, buku publikasi penelitian ataupun publikasi pemerintahan. (NOVIA INTAN/HENDRA).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *